Sambutan baik dari produsen otomotif untuk rencana DP 0 persen

Sambutan baik dari produsen otomotif untuk rencana DP 0 persen

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajukan relaksasi untuk mendorong penjualan mobil di Indonesia yang lambat akibat pandemi virus corona.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan pihaknya sudah mengajukan proposal soal itu kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Dalam suatu kesempatan, Menteri Agus mengatakan pihaknya telah mengusulkan kepada Menteri Keuangan untuk melonggarkan pajak mobil baru 0 persen hingga Desember 2020.

Ia yakin, dengan keleluasaan yang diberikan kepada calon pembeli kendaraan baru. Industri otomotif yang saat ini sedang mengalami kemunduran akan mampu tumbuh dan berkembang dengan baik dengan adanya pelonggaran pemotongan pajak kendaraan bermotor (PKB).

Baca juga: Penjualan mobil di Indonesia naik 47,43 persen pada Agustus

Baca juga: Isuzu terus perbaiki layanan purna jual

“Jika kita memperhatikan daya beli masyarakat agar terbantu dengan tax easing, maka akan kita terapkan. Kemudian pada gilirannya dapat membantu pertumbuhan industri manufaktur di bidang bidan otomotif,” ujarnya.

Dengan penurunan kinerja yang terjadi pada kuartal pertama tahun 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kinerja ini juga diketahui akibat merebaknya virus corona yang sudah menyebar sejak Maret 2020.

Namun memasuki kuartal kedua tahun 2020, penjualan kendaraan baru di Indonesia sudah mulai meningkat. Pada Agustus 2020, penjualan mobil di Indonesia mencapai 37.277 dolar, naik 47,43 persen dibandingkan Juli yang hanya 25/283 mobil menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO).

Terkait hal tersebut, respon yang baik juga datang dari para pelaku industri otomotif yang merupakan pemain utama industri otomotif Indonesia yang mendukung kebijakan serupa untuk menghidupkan kembali industri otomotif di Indonesia.

Kepala Departemen Interaktif PT Toyota Astra Motor (TAM) Dimas Aska mengatakan Toyota pada dasarnya selalu mendukung kebijakan pemerintah.

“Tentunya sebelum mengeluarkan kebijakan, pemerintah sudah melakukan penelitian terkait manfaat dan risikonya, jadi tentu akan kami dukung,” kata Dimas Aska.

Dimas Aska menambahkan, pihaknya tentu akan mendukung sepenuhnya, terlebih jika kebijakan tersebut dapat mendorong penyerapan di pasar otomotif, apalagi dalam situasi sulit seperti saat wabah ini. Menurutnya, kebijakan ini tentunya juga dapat memberikan efek domino yang positif bahkan di hulu.

Untuk mendorong penjualan dan meningkatkan minat beli masyarakat, Toyota meyakini bahwa kebutuhan mobilitas tentunya tetap dibutuhkan bahkan pada saat terjadinya COVID-19, untuk itu dengan tujuan mempermudah konsumen dalam berbagai hal yang mereka lakukan.

“Pertama, kami akan memastikan bahwa semua produk dan layanan yang kami berikan aman bagi pelanggan. Kemudian sejalan dengan praktik digital kami, kami juga terus meningkatkan penggunaan digital. Dimana kami tidak hanya memperkuat aset yang kami miliki seperti situs web, chatbot, aplikasi mToyota, tetapi kami juga membuat inovasi baru seperti menggelar pameran virtual. Demikian expo yang biasa kami adakan offline, kami pegang ini on line, "jelasnya.

Baca:  Brio Satya cetak penjualan tertinggi Honda pada Juli

Baca juga: BI: Uang muka kendaraan ramah lingkungan nol persen

Baca juga: BMW Group Indonesia Sambut Program DP 0 Persen

Selain itu, Dimas Aska juga menekankan pentingnya penguatan setelah terjual atau setelah penjualan, termasuk Toyota Mobile Service (TMS) dan pengiriman barang. Hal ini menurutnya sangat diperlukan terutama bagi pelanggan yang masih ragu untuk datang ke bengkelnya, namun berharap bisa melakukan perawatan atau service kendaraannya.

Tak hanya Toyota, dukungan ini juga datang dari pabrikan otomotif yang lebih fokus pada kendaraan niaga yaitu Isuzu yang juga memberikan respon positif atas rencana tersebut.

“Kami dukung sebagai upaya untuk mendorong penjualan, tapi akan lebih baik dan efeknya akan terasa jika ada lebih banyak stimulus, seperti penurunan KBN KB dan PPN BM, keduanya akan merangsang pembelian kendaraan baru,” ujar General Marketing Manager PT Isuzu Astra Motor Indonesia. , Attias. Asril.

Namun, Isuzu yang fokus pada kendaraan niaga berharap bisnis dan roda ekonomi berangsur-angsur membaik sehingga pembelian kendaraan niaga terus berlanjut seiring dengan perkembangan roda bisnis.

Soal wacana PKB lebih condong ke kendaraan penumpang, tentu ada dampaknya pada kendaraan niaga juga. Namun bagi kita yang menggunakan kendaraan niaga, kita membutuhkan lebih banyak stimulus untuk menggerakkan bisnis kita. Kalau bisnisnya bergerak, pasti ada pembelian kendaraan niaga, ”ujarnya.

Isuzu sendiri, untuk meningkatkan penjualannya, menyasar segmen yang masih potensial dan memiliki roda bisnis yang bergerak, seperti logistik yang masih stabil untuk pengiriman.

Attias Asril menambahkan, pihaknya juga berupaya memperkuat layanannya setelah terjual atau purna jual, terutama saat pelanggan atau pelanggan Isuzu tidak dapat meningkatkan kendaraan mereka.

“Kemudian mereka akan mengoptimalkan operasional kendaraan yang ada, sehingga perawatan dan penggantian suku cadang kendaraan menjadi penting,” ujarnya.

Baca juga: Uang Muka Nihil Lebih Cocok untuk Sepeda Motor Listrik

Baca juga: OJK klaim DP nol persen ditujukan untuk sektor produktif

Baca juga: Menkominfo tidak setuju dengan DP nol persen untuk mobil dan motor

Reporter: KR-CHA
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Hak Cipta © 2020