Prospek bisnis sistem pembayaran transportasi dinilai menjanjikan

Prospek bisnis sistem pembayaran transportasi dinilai menjanjikan

Jakarta (ANTARA) – Direktur Utama PT Delameta Bilano, perusahaan teknologi sistem transportasi berbasis riset, Tri Bayu Wicaksono menilai prospek bisnis sistem pembayaran transportasi nasional dinilai menjanjikan, seiring dengan pembangunan jalan tol utama di Tanah Air, bahkan di tengah wabah penyakit. COVID-19. .

Menurut data Delameta, jalan tol tersebut sudah memasuki tahap persiapan dan siap menempuh jarak 5.000 km, dimana 2.000 km di antaranya sudah terbangun. Sisanya masih dalam tahap perencanaan.

“Dilihat dari datanya, potensi bisnis sistem pembayaran transportasi sangat besar. Apalagi ada pelaku usaha penggantianKarena biasanya perangkat harus diganti setelah lima tahun, ”kata Bayu dalam diskusi virtual, Sabtu.

Dia mengatakan bisnis sistem pembayaran transportasi tumbuh sejak kewajiban penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol. Hal ini mendorong operator untuk mencari sistem pembayaran yang andal yang dapat mendukung operasional.

Pada titik ini, sistem pembayaran perusahaan membantu operator menjalankan bisnis secara efisien, mencegah hal itu terjadi penipuan, dan memperlancar arus keluar masuk kendaraan.

Baca juga: Usai melambat, lalu lintas kendaraan di tol kembali meningkat

Baca juga: BPJT akan sesuaikan tarif tol

Delameta, kata dia, menawarkan sistem pembayaran tol yang lengkap, dimulai dari klasifikasi kendaraan otomatis (AVC), sensor kendaraan loop, perakitan mesin terminal, inframerah, silang atau sistem penghalang jalur, pengumpulan tol elektronik (ETC), CCTV, pensinyalan pesan variabel (VMS), sampai pengenalan piring.

Sistem pembayaran Delameta sendiri telah terpasang di 21 ruas tol, seperti Jagorawi, Jakarta-Tangerang, dan Balikpapan-Samarinda.

Bayu mengatakan, sebagian besar peralatan tersebut diproduksi Delameta di pabrik Pulogadung, Jakarta.

Bayu menilai sistem pembayaran transportasi akan meningkat lebih cepat jika sistem tersebut pendapatan biaya dasar bekas. Sebab, dalam skema ini, operator tidak perlu lagi berinvestasi di sistem pembayaran, melainkan dipasok oleh perusahaan seperti Delameta. Operator hanya perlu membagi hasil operasi tol dengan perusahaan sistem pembayaran.

Baca:  Ford targetkan 100 ribu kendaraan berfitur "hands-free" terjual

"Kami sedang menjajaki skema ini dengan beberapa operator tol," ujarnya.

Bayu menambahkan, bisnis sistem pembayaran transportasi juga sudah merambah pelabuhan. Delameta sekarang menyediakan sistem pembayaran akses (melewati pintu) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Dengan sistem Delameta, pendapatan melewati pintu meningkat 3-4 kali lipat, karena pembayaran menggunakan sistem non tunai seperti di jalan tol. Setiap hari, jumlah kendaraan yang masuk Priok sebanyak 13 ribu unit.

Delameta, kata dia, telah menandatangani kontrak akuisisi sistem pembayaran di tiga pelabuhan lainnya, yakni Panjang, Banten, dan Sunda Kelapa.

Jumlah ini akan terus bertambah seiring rencana Pelindo II untuk menerapkan sistem pembayaran terpusat di 12 pelabuhan yang dioperasikan. Delameta akan integrator sistem pembayaran di 12 pelabuhan.

Bayu menambahkan Delameta juga membidik pasar ekspor potensial ke kawasan regional, seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, dan Timor Leste. Produk yang akan diekspor mencakup batang otomatis dengan merek dagang Palmat.

Baca juga: Delameta-CMNP Group bekerja sama mengembangkan sistem jalan tol di dalam kota

Baca juga: Menumbuhkan IoT, perusahaan menginvestasikan 5 juta dolar dalam modal baru

Baca juga: BPJT: Penerapan Teknologi MLFF untuk Optimalkan Pelayanan Jalan Tol

Reporter: A087
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Hak Cipta © 2020