PKB 0 persen tidak langsung menggerus pasar mobil bekas

PKB 0 persen tidak langsung menggerus pasar mobil bekas

Jakarta (ANTARA) – Usulan Kementerian Perindustrian untuk menurunkan pajak atas pembelian mobil baru hingga nol persen atau pengurangan pajak kendaraan bermotor (PKB) menimbulkan pertanyaan apakah rencana tersebut dapat menggerus pasar mobil bekas.

Menurut pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, yang dihubungi ANTARA, Minggu, ada perhitungan yang akhirnya bisa menyimpulkan asumsi tersebut.

Jika pajak mobil baru bisa menjadi nol persen pada akhir tahun 2020, maka secara hipotetis harga akan dipotong sekitar 10-25 persen. Itu tergantung pada apakah PPN dihapus atau PPNBM.

Namun jika turun hanya 10 persen, menurut Yannes tidak akan mengganggu harga mobil bekas yang kini sudah turun harganya dibanding harga di bulan yang sama tahun 2019.

“Jika harga mobil baru bisa dipotong sekitar 10-25 persen, maka bisa menggerus pasar mobil bekas. tahan, maka harga jual mobil bekas akan semakin turun, ”ujarnya.

Baca juga: Pajak Mobil Baru 0 Persen dan Strategi Hebat Tingkatkan Daya Beli

Baca juga: Gaikindo dukung PKB untuk mobil nol persen, ajukan pelonggaran pajak lainnya

Lebih lanjut, jika hal ini terjadi, masyarakat akan semakin yakin bahwa kendaraan bermotor bukan lagi barang yang layak investasi, melainkan barang konsumsi dengan tingkat depresiasi yang lebih besar.

Meski demikian, Yannes tidak memungkiri bahwa di tengah ketidakpastian wabah COVID-19, masih ada masyarakat yang mungkin ingin berganti kendaraan pribadi dengan harga murah, yang pada akhirnya akan menimbulkan mobil bekas.

“Jika masih ada sebagian kecil yang berpikir untuk beralih dari kendaraan pribadi dari angkutan umum, tentunya yang memiliki keuangan lebih terbatas akan lebih memilih untuk membeli kendaraan bekas,” ujarnya.

Di sisi lain, ketika ditanya tentang peningkatan daya beli masyarakat terhadap mobil baru yang akan direalisasikan dalam jangka pendek dari inisiatif PKB 0 persen ini, Yannes mengatakan, hal tersebut masih sulit untuk diprediksi, namun ini bisa menjadi harapan baru bagi industri otomotif.

Baca:  Daihatsu perbarui "Smart Assist IIIt" untuk Hijet dan Atrai Wagon

“Upaya meningkatkan minat dan daya beli masyarakat dalam waktu singkat sangat sulit diprediksi, mengingat pemberlakuan kembali PSBB pada awal September terbukti langsung menekan perekonomian rakyat,” kata Yannes.

“Apalagi Bank Indonesia sudah mematok prediksi inflasi 3,02 persen. Dari catatan, penjualan kendaraan bermotor hanya bisa meningkat jika pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,7 persen,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian Indonesia mengusulkan pengurangan pajak atas pembelian mobil baru sebesar nol persen atau pemotongan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), yang diharapkan dapat merangsang pasar dan sekaligus mendorong pertumbuhan sektor otomotif di tengah pandemi COVID-19.

Koalisi Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) juga menyatakan dukungannya atas usulan Kementerian Perindustrian tentang pelonggaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sebesar nol persen untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Baca juga: Untuk meningkatkan daya beli, Menperin mengusulkan pajak mobil baru 0 persen

Baca juga: Pasar mobil bekas diprediksi pulih dalam tiga bulan ke depan

Baca juga: Apa peran dealer di pasar online dan daftar mobil?

Reporter: A087
Editor: Alviansyah Pasaribu
Hak Cipta © 2020