Kurangi tekanan ban pada saat musim hujan akan menambah bahaya

Kurangi tekanan ban pada saat musim hujan akan menambah bahaya

Jakarta (ANTARA) – Beberapa wilayah di Indonesia sudah memasuki musim hujan, banyak pengendara kendaraan roda empat yang menilai pengurangan tekanan angin dapat meningkatkan performa pengereman saat genangan air.

Dalam hal ini, kegiatan mengurangi angin pada ban menimbulkan bahaya jika akan ada struktur berbentuk W yang bagian tengah tapaknya tidak menyentuh permukaan jalan.

Sebaliknya, ketika ban diberi tekanan udara yang lebih tinggi dari yang direkomendasikan, maka alas ban membentuk struktur U dimana hanya bagian tengah ban yang menyentuh jalan. Mereka juga tidak memberikan traksi ban maksimum yang dibutuhkan saat mobil melintasi genangan air.

Di beberapa teknologi ban, tim pengembang dan peneliti telah mempelajari kasus pengereman ini, mengacu pada upaya memperluas penampang dan proses senyawa yang digunakan dalam bentuk karet dan ekspansi ban.

Salah satunya adalah Goodyear Eagle F1 Sport yang mampu menghasilkan rem efektif di jalan basah maupun kering.

Situs ini memiliki blok bahu bagian dalam dan luar yang lebih lebar, sehingga pengendalian ban lebih sempurna saat berputar. Meskipun desain cakar elang berkontribusi pada tekanan beban yang diberikan secara merata di area kontak jalan, menjaga kestabilan ban saat melakukan pengereman dan manuver berputar.

Sedangkan silika dicampur menjadi senyawa dan zat aditif matriks polimer meningkatkan reaksi kimia dan pencampuran senyawa. Hal ini kemudian menghasilkan performa pelengketan karet yang lebih optimal, yang dibutuhkan saat melakukan pengereman saat kendaraan melaju di jalan kering dan terutama saat kendaraan harus melaju di permukaan jalan yang basah.

Baca juga: Pahami cara kerja tekanan angin pada ban kendaraan komersial

Baca juga: Mendekati musim hujan, jangan lupa cek kondisi ban mobil Anda

Baca:  Lihat-lihat diler DFSK kini bisa lewat ponsel

Baca juga: Goodyear Indonesia fokus pada pasar domestik

Reporter: KR-CHA
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Hak Cipta © 2020